psikologi sosial 1 hal. 80-84

Skema : Kerangka Mental untuk Mengorganisasi dan Menggunakan Informasi Sosial

Beberapa tahun yang lalu, saya mengunjungi Maroko. Saya mengalami beberapa peristiwa mengesankan di sana, namun terkenal di kota Marakesh pada hari pertama kedatangan saya. Ketika kami masuk, saya dan orang yang menemani saya melewati sekelompok pemusik. Ketika kami lewat, mereka mulai bermain, dan saya terus bermain sampai kami duduk. Kemudian, mereka mulai bermain lagi ketika pasangan lain masuk, saya memahami apa yang terjadi: mereka bermain untuk menyambut tamu yang baru datang, kemudian diam sampai pengunjung berikutnya datang. Setelah kami duduk (dibantal di lantai), seorang laki-laki muda mendekati kami dengan membawa sebuah benda yang tampaknya seperti teko teh yang sangat besar. Ia menggerakkan benda tersebut mengarah pada mangkuk metal yang terletak di tengah meja. Dengan cepat saya mengerti: pria tersebut ingin agar kami mengulurkan tangan kami ke atas mangkuk tersebut sehingga ia dapat menuangkan air ke atas tangan kami. Ini hal yang baik, saya piker, karena tidak ada pisau maupun garpu: kami makan menggunakan roti yang lezat yang disediakan. Dan saya dengan cepat menyadari bahwa roti yang disediakan telah dipotong-potong dalam bentuk ukuran yang tepat untuk digunakan sebagai sendok. Makanan disana enak sekali, dan malam itu sangat menyenangkan. Ketika kami keluar, para pemusik kembali bermain, dan saya menyadari adanya sebuah piring besar berisi koin diletakkan secara strategis di dekat kami. Saya meletakkan beberapa koin ke dalam piring tersebut, dan pemimpin pemusik itu mengangguk berterima kasih kepada saya—saya telah melakukan hal yang benar.

Sekarang pertanyaan kuncinya adalah : saya tidak pernah ke Maroko sebelumnya dan tidak pernah memiliki pengalaman seperti diatas (makan dilantai, mengulurkan tangan untuk dicuci, dan lain-lain), jadi bagaimana bisa saya mengetahui apa yang sedang terjadi dengan cepat dan mudah? Sebagian jawabannya melibatkan fakta bahwa saya pernah mengalami situasi yang mirip dimasa lalu : saya pernah makan di ratusan restoran diberbagai Negara didunia. Di beberapa restoran, pelayannya memberi saya handuk panas untuk mencuci tangan, dibeberapa restoran lain disediakan sebuah mangkuk kecil untuk mencuci tangan di meja. Dan saya tentu pernah memberikan tips untuk banyak orang – pelayan restoran, tukang parker dan sebagainya. Sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman ini, saya memiliki sejenis kerangka mental untuk memahami situasi-situasi tersebut dan perilaku orangporang didalam situasi semacam ittu. Kerangka tersebut diketahui sebagai skema (schema) – struktur mental yang membantu kita mengorganisasi informasi social, dan yang menuntun pemrosessannya. Secara umum, skema berkisar pada suatu subjek atau tema tertentu. Contohnya, pada situasi diatas skema yang beraktivasi mungkin dideskripsikan sebagai “skema restoran” saya, ini merupakan kerangka menta, dibangun melalui pengalaman diberbagai restoran yang telah dikunjungi terdahulu, yang membantu saya untuk memahami informasi social baru yang saya hadapi – seorang pelayan yang ingin menuangkan air  ke atas tangan saya, pemusik yang bermain music hanya ketika pengunjung restoran masuk atau keluar, dan seterusnya (lihat Gambar 3.2).  Jelasnya, skema tersebut dibentuk oleh budaya dimana kita tinggal, bagaimanapun skema saya untuk “rumah makan” berbeda dengan skema orang-orang yang hidup di Moroko. Namun untuk kasus ini, skema saya cukup mirip untuk membantu saya menginterpretasi dan emahami peristiwa dimalam tersebut.

Begitu terbentuk skema akan sangat berpengaruh pada beberapa aspek kognisi social sehingga juga akan mempengaruhi perilaku social kita. Mari kita melihat lebih dekat lagi usaha-usaha kita untuk memahami dunia social di sekaliling kita yang kompleks.

Pengaruh Skema terhadap Kognisi Sosial :

Atensi, Pengodean, Mengingat Kembali

Bagaimana skema mempengaruhi kognisi social? Hasil-hasil penelitian mengungkapkan bahwa skema menimbulkan efek yang kuat pada tiga proses dasar perhatian atau atensi (attention), pengodean (encoding), dan mengingat kembali (retrieval). Atensi berkaitan dengan informasi yang kita perhatikan. Pengkodean adalah proses dimana informasi yang kita perhatikan disimpan didalam ingatan. Terakhir mengingat kembali adalah proses dimana kita mengeluarkan informasi dari ingatan dan menggunakannya untuk keperluan tertentu – contohnya, membuat penilaian tentang orang lain.

Skema telah terbukti berpengaruh terhadap semua aspek dasar kognisi social (Wyer & Srull, 1994). Dalam hubungannya dengan atensi , skema sering kali berperan sebagai sejenis penyaring : informasi yang konsisten dengan skema lebih diperhatikan dan lebih mungkin untuk masuk kedalam kesadaran kita. Informasi yang tidak cocok dengan skema kita sering kali diabaikan (Fiske, 1993), kecuali informasi tersebut sangat ekstrem sehingga mau tidak mau kita akan memperhatikannya. Bahkan, hal ini pun sering kali dianggap sebagai “pengecualian yang membuktikan peraturan”.

Pengodean – informasi apa yang dimasukkan kedalam ingatan – merupakan fakta bahwa informasi yang terjadi menjadi focus atensi kita lebih mungkin untuk disimpan dalam ingatan jangka panjang. Jadi, secara umum lagi-lagi informasi yang konsisten dengan skema kita yang dikodekan atau di-encode. Namun, informasi yang sangat tidak konsisten dengan skema kita – informasi yang tidak sesuai dengan harapan kita terhadap suatu situasi – kadang kala juga dikodekan dalam ingatan yang lokasinya terpisah dan ditandai dengan “label” unik. Pada akhirnya, sangat diluar harapan kita bahwa informasi tersebut bisa mendapatkan perhatian kita dan hampir memaksa kita untuk mendapatkannya dalam ingatan jangka panjang (Stangor & McMillan, 1992).

Hal tersebut mengarahkan kita pada proses ketiga, mengingat informasi kembali (retrieval). Informasi apa yang paling siap untuk diingat – informasi yang konsisten dengan skema kita atau informasi yang tidak konsisten dengan keragka mental ini? Ini merupakan pertanyaan yang kompleks yang telah diteliti diberbagai penelitian yang berbeda (Misalnya dalam Strangor & McMillan, 1992). Secara umum, penelitian ini mengungkapkan bahwa orang cenderung untuk mengingat dan menggunakan informasi yang konsisten dengan skema, lebih banyak dibanding informasi yang tidak konsiten. Namun hal tersebut dapat saja muncul karena adanya perbedaan dalam ingatan actual atau, kemungkinan lain, karena adanya kecenderungan respon yang sederhana. Dengan perkataan lain, informasi yang tidak konsisten dengan skema, mungkin muncul dalam ingatan sekuat atau bahkan lebih kuat dari pada informasi yang konsisten dengan skema,tapi pada umumnya orang memiliki kecenderungan untuk melaporkan (menjelaskan) informasi yang konsisten dengan skema mereka. Data-data yang ada tampaknya menunjang hal ini. Ketika pengukuran ingatan dikoreksi terhadap kecenderungan respon tersebut, atau ketika individu diminta untuk benar-benar mengingat informasi kembali (recall), dan bukan hanya mengingat sepintas yang berupa indikasi apakah mereka mengenalinya atau tidak, maka ada kecenderungan kuat untuk mengingat informasi yang tidak sesuai dengan skema. Jadi tidak ada jawaban sederhana terhadap pertanyaan, “Mana yang lebih kita ingat – informasi yang konsisten atau yang tidak konsisten dengan skema atau harapan kita?” Jawabannya tergantung pada pengukuran ingatan yang digunakan. Secara umum, orang melaporkan informasi dan konsisten dengan skema mereka, namun kenyataannya, informasi yang tidak konsisten dengan skema juga dapat secara kuat muncul dari dalam ingatan.

Sampai di sini, perlu dicatat bahwa efek skema pada kognisi social (misalnya apa yang kita ingat, bagaimana kita menggunakan informasi tersebut untuk membuat keputusan atau penilaian) secara kuat bila skemanya sendiri kuat terbentuk dan mapan (Misalnya dalam Stronger & McMillan, 1992; Tice, bratslavky, & baumeister, 2000), dan juga lebih kuat bila beban kognitif – seberapa banyak usaha mental yang kita keluarkan pada satu waktu – lebih tinggi dibandingkan dengan bila beban lognitif rendah (misalnya dalam Kunda, 1999). Dengan kata lain, ketika kita mencoba untuk mengolah begitu banyak informasi social pada satu waktu, kita akan kembali menggunakan skema-skema yang ada karena kerangka-kerangka ini membantu kita merespons informasi dengan usaha yang lebih sedikit.

Sebelum sampai pada kesimpulan, kita perlu memperhatikan fakta bahwa meskipun skema didasarkan pada pengalaman lalu kita (skema merefleksikan pengetahuan yang didapat dari pengalaman kita didunia social) dan sering kali membantu kita, skema juga memiliki kelemahan yang serius. Skema mempengaruhi apa yang kita perhatikan, apa yang masuk dalam ingatan kita, dan pada apa yang kita ingat, sehingga terjadi ditorsi pada pemahaman kita terhadap dunia social. Contohnya, seperti akan kita lihat pada Bab 6, skema memainkan peran penting dalam pembentukan prasangka dalam pembentukan satu komponen dasar pada stereotype tentang kelompok-kelompok social tertentu. Dan jeleknya sekali terbentuk, skema sering kali sulit diubah – skema memiliki efek bertahan (perevarabce effect) tidak berubah bahkan ketika menghadapi informasi yang kontradiktif (misalnya dalam Kunda & Olesan, 1995). Contohnya, ketika kita berhadapan dengan informasi yang tidak konsisten dengan skema, seperti orang dengan inteligensi tinggi yang merupakan bagian dari kelompok minoritas, kita tidak selalu mengubah skema kita. Melainkan kita meletakkan orang-orang seperti itu dalam kategori khusus atau subtype yang mencakup orang-orang yang tidak cocok dengan skema atau stereotip (misalnya dalam Richard & hewstone, 2001). Lebih buruknya lagi, kadang kala skema bisa memberikan efek pemenuhan harapan diri (self-fulfilling) : skema membuat dunia social yang kita alami menjadi konsisten dengan skema yang kita miliki. Mari kita lihat lebih dekat lagi pada proses ini, yang dalam psikologi social dikenal sebagai skema self-fulfilling prophecy atau sifat pemastian diri (selfonfirming nature).

Bukti Tentang Karakteristik Pemastian Diri dari Skema :

Kapan – dan bagaimana – Keyakinan Membentuk Realitas

Selama masa depresi tahun 1992, banyak bank menghadapi situasi sebagai berikut : mereka cukup mampu membayar hutang-hutangnya, namun gossip yang beredar mengindikasikan bahwa mereka tidak mampu. Hasilnya banyak sekali pemilik deposito antre untuk menarik uangnya sehingga, pada akhirnya bank-bank tersebut benar-benar tidak mampu memenuhi kewajibannya: bank tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi semua tuntutan nasabah pada saat bersamaan. Jadi,pemilik deposito di banklah yang menyebabkan terciptanya ketakutan terburuk mereka sendiri.

Yang menarik, skema juga dapat memberikan efek seperti itu, yang terkadang dijelaskan sebagai  self-fulfilling prophecy – ramalan yang membuat ramalan itu sendiri benar-benar terjadi. Fakta klasik untuk efek seperti itu diungkapkan oleh Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson (1968) selama masa pergolakan pada sekitar tahun 1960. Selama masa tersebut, ada kekhawatiran tentang kemungkinan pandagan para guru tentang siswa minoritas – skema guru untuk siswa minoritas – yang menyebabkan guru-guru memperlakukan siswa-siswa tersebut secara berbeda (kurang positif) dibandingkan dengan kelompok siswa mayoritas dan ini menyebabkan prestasi kelompok siswa minoritas berbeda jauh dan semakin jauh dibelakang. Para guru itu tidaklah secara terang-terangan berprasangka melainkan perilaku mereka dibentuk oleh harapan dan keyakinan mereka—skema mereka untuk kelompok ras dan etnik yang berbeda.

Untuk mengumpulkan bukti mengenai kemungkinan munculnya efek seperti itu, Rosenthal dan Jacobson mengadakan penelitian yang cerdik yang menimbulkan, efek kuat pada penelitian-penelitian  selanjutnya di bidang psikologi sosial.  Mereka mendatangi sekolah-sekolah dasar di San Francisco dan menjalankan tes IQ kepada seluruh siswa. Kemudian mereka mengatakan kepada para guru bahwa beberapa siswa memiliki skor sangat tinggi dan akan berkembang pesat secara akademik. Kenyataannya, ini tidak benar: para peneliti tersebut memilih nama-nama siswa tersebut secara acak. Namun Rosenthal dan Jacobson meramalknn bahwa informasi ini bisa mengubah harapan (dan skema) para guru terhadap anak-anak ini, begitu pula dengan perilaku mereka terhadap anak-anak tersebut.  Para guru tidak diberikan informasi tentang siswa-siswa lain, yang tergabung, di dalam  kelompok kontrol.

Untuk melihat apakah keprihatinan tadi benar, Rosenthal dan Jacobson kembali lagi ke sekolah tersebut 8 bulan kernudian dan memberikan tes lagi kepada kedua kelompok tersebut. Hasilnya jelas—dan dramatis: mereka yang tennasuk dalam  “siswa yang akan berkembang” menunjukkan  peningkatan tes IQ yang signifikan dibandingkan dengan mereka yang berada dalam kdompok kontrol. Pendek kata, keyakinan guru tentang siswa-siswanya telah beroperasi sesuai dengan  prinsip self-fulfilling prophecy: siswa-siswa yang diyakini oleh gurunya akan berkembang  pesat secara akademik ternyata memang benar-benar menjadi kenyataan.

Bagaimana efek seperti itu bisa terjadi? Sebagian, melalui pengaruh  skema pada perilaku para guru. Penelitian berikutnya (Rosenthal, 1994) mengungkapkan  bahwa para guru memberikan perhatian lebih kepada para siswa “yang akan ber­kembang pesat tersebut” dengan tugas-tugas yang lebih menantang, lebih banyak umpan balik yang lebih baik, dan kesempatan lebih untuk aklif di kelas. Pendek kata, para guru bertindak dengan cara-cara yang menguntungkan para siswa yang mereka harapkan akan berkembang pesat, sehingga para siswa ini menjadi seperti yang diharapkan.

Dampak dari penelitian-penelitian ini, para psikolog sosial mulai efek lain dari skema pemastian diri (self-conforming) pada berbagai situasi – dalam  pendidikan, terapi, dan bisnis, hanyalah segelintir dari situasi-situasi tersebut.  Para psikolog sosial segera menemukan fakta bahwa skema memang  sering kali membentuk  perilaku untuk mengkonfirmasikan atau memastikan kebenaran skema itu sendiri. Contohnya, para psikolog menemukan bahwa harapan para  guru  yang lebih rendah terhadap siswa minoritas atau wanita untuk bisa  sukses  sering kali  meruntuhkan kepercayaan diri kelompok-kelompok siswa ini dan justru berkontribusi pada kinerja  yang lebih buruk (misalnya dalam Sadker & Sadker, 1994). Melihat temuan ini dan temuan-temuan lain yang sejenis, kini kita ketahui bahwa  stereotip tidak hanya memiliki pengaruh terhadap—namun melalui efek pemastian dirinya, juga membentuk—realitas sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: